Senin, 16 April 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN HIDROSEFALUS


1. KONSEP TEORI

A. PENGERTIAN

a.    Keadaan penimbunan cairan serebrospinal dalam rongga intrakranial yang ditandai dengan pembesaran kepala pada bayi dan anak kecil (Nelson, 1993).
b.    Keadaan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinalis (CSS) dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya cairan serebrospinal (CSS). (Ngastiyah, 1997).
c.    Akumulasi cairan serebrospinal dalam ventrikel serebral, ruang sub arachnoid atau ruang sub dural. (Suriadi & Rita, 2001).

B. ETIOLOGI
Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang sub arakhnoid. Akibat penyumbatan terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya. Tempat yang sering tersumbat adalah foramen monroe, foramen luscka dan magendie, sisterna magna dan sisterna basalis.
Sedangkan penyebab sumbatan pada aliran cairan serebrospinalis yang paling sering terdapat adalah kelainan bawaan, infeksi, neoplasma dan perdarahan.
1. Kelainan bawaan
a. Stenosis akuaduktus sylvii
Merupakan penyebab terbanyak pada bayi dan anak (60% – 90%). Akuaduktus dapat merupakan saluran yang buntu sama sekali atau abnormal, umumnya gejala hidrosefalus terlihat sejak lahir atau progresif.
b. Spina bifida dan kranium bifida
Berhubungan dengan sindrom Arnold – Chiari akibat tertariknya medula spinalis dengan medula oblongata dan serebelum letaknya lebih rendah sehingga menutupi foramen magnum yang menyebabkan sumbatan sebagian atau total.
c. Sindrom Dandy – Walker
Merupakan atresia kongenital foramen lushca dan megendie dengan akibat hidrosefalus obstruktif dengan pelebaran sistem ventrikel terutama vantrikel IV yang dapat sedemikian besarnya sehingga merupakan suatu kista yang besar didaerah fosa posterior.
d. Kista arakhnoid
   Dapat terjadi kongenital tetapi dapat pula timbul akibat trauma sekunder.
e. Anomali pembuluh darah

2. Infeksi
Akibat adanya infeksi menimbulkan perlekatan meningen sehingga dapat terjadi obliterasi subaraknoid.
Misal : meningitis.

3. Neoplasma
4. Perdarahan
    Dapat menyebabkan fibrosis leptomeningen terutama pada daerah basal otak.

C. ANATOMI FISIOLOGI (Silvia A Price, 1995)
Ruangan cairan serebrospinalis mulai terbentuk pada minggu ke lima masa embrio, yang terdiri atas sistem ventrikel, sisterna magna pada dasar otak dan ruang subaraknoid yang meliputi seluruh susunan saraf. Cairan serebrospinal yang dibentuk dalam ventrikel oleh pleksus koroidalis kembali dalam peredaran darah melalui kapiler dalam piameter dan araknoid yang meliputi susunan saraf pusat. Hubungan antara sistem ventrikel dan ruang araknoid tersebut melalui foramen magendie di median dan foramen luschka disebelah ventrikel ke IV.
Aliran CSS yang normal ialah dari ventrikel lateralis melalui foramen monroi ke ventrikel III, dari tempat ini melalui saluran yang sempit akuaduktus sylvii ke ventrikel IV dan melalui foramen luscha dan Magendie kedalam sub araknoid melalui sisterna magna. Penutupan sisterna basalis menyebabkan gangguan kecepatan resorbsi CSS oleh sistem kapiler.

D. PEMBAGIAN / TIPE
Hidrosefalus dibedakan atas dua tipe :
1. Hidrosefalus Obstruktif
Dikatakan hidrosefalus obstruktif bila tekanan cairan serebrospinalis yang meningkat disebabkan karena adanya obstruksi pada salah satu tempat pembentukan cairan serebrospinalis oleh pleksus koroidalis dan keluarnya dari ventrikel IV melalui foramen luscha dan magendie.
2. Hidrosefalus Komunikans
Bila tekanan cairan serebrospinalis meningkat tanpa adanya penyumbatan pada sistem ventrikel.

F. GEJALA KLINIK
1. Early Infant
a.   Pertumbuhan kepala yang tidak normal
b.   Fontanel menonjol
c.   Vena di  kepala melebar
d.   Sutura melebar
e.   Pada palpasi terdengar bunyi " Cracked- pot "
f.      Dahi menonjol
2. Later Infant
a.    Pembesaran Frontal
b.    Penekanan Mata ( Sunset sign )
c.    Gerakan Bola Mata tidak teratur
d.    Pupil terlambat berespon terhadap cahaya
3. Infant
a.    Irritability
b.    Lethargy
c.    Menangis bila diletakkan terbaring
d.    Reflek awal anak timbul
e.    Bila cepat berkembang, Hidrocephalus dapat menyebabkan :
-       Sulit minum atau menelan
-       Menagis nyaring, Singkat, Melengking
-       Emesis
-       Somnolen
-       Kejang
-       Cardio Pulmonari yang membingungkan
4. Childhhood
a.    Headache /Nyeri kepala saat bangun
b.    Emesis
c.    Edema pupil
d.    Strabismus
e.    Tanda Ekstrapiramidal : ataxsia
f.     Irritable
g.    Letargy, Apatis
h.    Bingung

G. KOMPLIKASI
-       Peningkatan TIK
-       Infeksi
-       Kerusakan otak
-       Malfungsi pirau
-       Keterlambatan perkembangan kognitif,psikososial dan fisik
-       IQ menurun
-       kematian

H. UJI LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK
-       Menggunakan CT-Can
-       Pungsi langsung ke dalam ventrikel melalui fontanel anterior untuk memantau tekanan CSS.
-       Magnetic Resonance Imaging (MRI)

I. PENATALAKSANAAN MEDIS
Ada tiga prisip pengobatan :
1       Mengurangi produksi cairan Serebro Spinalis
2      Memperbaiki hubungan tempat produksi cairan serebrospinalis dan tempat absorbsi
3      Pengeluaran cairan serebrospinalis ke dalam organ ekstrakranial dengan pilihan
Tindakan :
a.   Shunt/ drainase Ventrikulo peritoneal
- Mengalihkan cairan serebrospinalis dari ventrikel lateral atau sub arachnoid ke rongga peritoneal
- Tube/ slang dipasang dari ventrikel lateral kelubang burr occipital secara subcutan terus ke leher dan ke daerah spinal dan terus ke rongga peritoneal dengan membuat insisi kecil dibawah kwadran bawah sebelah kanan
- Tekanan katub satu arah dan sangat peka terhadap peningkatan tekanan intrakranial
- Cara ini adalah cara yang mendekati sempurna karena lebih mudah, komplikasinya rendah serta mudah untuk melakukan perbaikan atau revisi bila terjadi penyumbatan. Cairan dialirkan dari tempat steril ke rongga yang steril juga.
b.   Shunt/ drainase Ventrikulo pleural
- Tube/slang dipasang dari ventrikel lateral yang besar ke lobang burr yang di daerah parietal dari tengkorak
- Kemudian di pasang dibawah kulit dibelakang telinga dan kemudian masuk ke vena Kava Superior dan selanjutnya masuk ke atrium kanan
- Tekanan katup searah, yang peka dan akan tertutup untuk mencegah reflux darah ke dalam ventrikel dan akan terbuka saat tekanan ventrikel naik, sehingga serebrospinalis lewat dan masuk ke dalam aliran darah.
c.   Shunt/drainase Ventrikulo atrial
- mengalihkan cairan serebro spinalis ke rongga pleural
- Indikasi pada saat ventrikulo peritoneal Shunt atau ventrikulo atrial shunt tidak dapat digunakan

2. ASUHAN KEPERAWATAN
1.   Pengkajian
a. Biodata : Terjadi pada bayi dan anak
b. Riwayat Kesehatan
1) Prenatal: Adanya infeksi intra Uterin/ Kongenital
2) Post Natal : Perdarahan, Neoplasma.
c. Pemeriksaan Fisik
1)    Masa bayi :
- kepala membesar , Fontanel Anterior menonjol, Vena pada kulit kepala dilatasi dan terlihat jelas pada saat bayi menangis, terdapat bunyi Cracked- Pot ( tanda macewen ), Mata melihat kebawah (tanda setting – sun ) , mudah terstimulasi, lemah, kemampuan makan kurang, perubahan kesadaran, opistotonus dan spatik pada ekstremitas bawah
- pada bayi dengan malformasi Arnold- Chiari, bayi mengalami kesulitan menelan, bunyi nafas stridor, kesulitan bernafas, Apnea, Aspirasi dan tidak reflek muntah.
2)    Masa Kanak-Kanak
-  Sakit kepala, muntah, papil edema, strabismus, ataxsia mudah terstimulasi , Letargy, Apatis, Bingung, Bicara inkoheren.
d. Pemeriksaan Diagnostik
1)    Lingkar Kepala pada masa bayi
2)    Translumiasi kepala bayi, tampak pengumpulan cairan serebrospinalis yang abnormal
3)    Perkusi pada tengkorak bayi menghasilkan "suara khas"
4)    Opthalmoscopi menunjukan papil edema
5)    CT Scan
6)    Foto Kepala menunjukan pelebaran pada fontanel dan sutura serta erosi tulang intra kranial
7)    Ventriculografi ( jarang dipakai ) : Hal- hal yang Abnormal dapat terlihat di dalam sistem ventrikular atau sub - arakhnoid
e. Perkembangan Mental/ Psikososial
- Tingkat perkembangan
- Mekanisme koping
- Pengalaman di rawat di Rumah Sakit
f.  Pengetahuan Klien dan Keluarga
- Hidrosephalus dan rencana pengobatan
- Tingtkat pengetahuan

2.      Diagnosa Keperawatan ( Suriadi , 2001 ; 140 ), (Greenberg, 1998 )
a. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan meningkatnya volume cairan serebrospinal, meningkatnya tekanan intra kranial
b.  Resiko injuri berhubungan dengan pemasangan shunt
c.  Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan adanya tindakan untuk mengurangi tekanan intra kranial, meningkatnya tekanan intra kranial
d. Resiko infeksi berhubungan dengan efek pemasangan shunt
e.  Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi yang mengancam kehidupan anak
f. Antisipasi berduka berhubungan dengan kehilangan anak

3.   Perencanaan
a. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan meningkatnya volume cairan serebrospinal, meningkatnya tekanan intra kranial
1) Tujuan : Perfusi jaringan serebla adequat
2) Kriteria Evaluasi :
- Tanda Neurologis stabil (Tidak ada kejang  , Tidak ada Pusing , )
- Perdarahan
- Cairan Serebro Spinal Lancar
3) Intervensi :
- Observasi tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial
- Kaji data dasar neurologi
- Hindari pemasangan infus pada vena kepala jika terjadi pembedahan
- Tentukan posisi anak : ( tempatkan pada posisi terlentang dan tinggikan kepala)
-  hindari penggunaan obat-obat penenang
- Jangan pernah memompa shunt untuk mengkaji fungsi dari shunt
- Ajarkan keluarga tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial
b. Resiko tinggi untuk terjadinya infeksi sehubungan dengan penggunaan system pengairan ( pemasangan shunt) dan proses pembedahan
1) Tujuan : Klien tidak mengalami infeksi
2) Kriteria Evaluasi :
- Suhu, Nadi dalam batas Normal
- Tidak ada Oedema , Tidak ada Nyeri, Tidak ada kemerahan
3)Intervensi :
-        Kaji tanda-tanda infeksi, muntah, respon dan aktifitas
-        Berikan antibiotik sesuai anjuran
-        Perhatikan daerah sekitar insisi untuk menghhindari kebocoran
-        Gunakan tekhnik aseptik dalam merawat luka
-        Perhatikan kebersihan anak
c. Resiko tinggi terjadinya kerusakan integritas kulit/ Injuri sehubungan dengan penekanan dan ketidakmampuan untuk menggerakkan kepala
1) Tujuan : Klien akan menunjukan integritas kulit yang baik
2) Intervensi :
- Berikan perawatan kulit
-  Laporkan segera bila terjadi perubahan tanda-tanda vital ( atau tingkah laku )
- Monitar daerah sekitar operasi terhadap adanya tanda-tanda kemerahan atau pembengkakan
- Pertahankan terpasangnya kondisi shunt tetap baik, jika kondisi shunt yang tidak baik, maka segera untuk berkolaborasi untuk pengangkatan atau penggantian shunt
- Lakukan pemijatan pada selang shunt untuk menghindari sumbatan pada awalnya.
d. Kurangnya pengetahuan keluarga sehubungan dengan kurang informasi tentang keadaan yang krisis
1) Tujuan : Keluarga klien akan menerima support dengan adekuat
2) Kriteria Hasil :
- keluarga menerima keadaan anaknya
- terlihat memberikan dukungan selama perawatan
- dapat mendeteksi tanda resiko tinggi
3) Intervensi :
- Jelaskan kepada keluarga bahwa mereka sangat berarti bagi perawat
- Jelaskan kegiatan rutin yang akan dilakukan kepada anak
- Jelaskan dimana mereka dapat bertanya atau mendapat sesuatu untuk memenuhi kebutuhan anak
- jelaskan tentang penyakit, tindakan dan prosedur yang akan dilakukan
- Berikan kesempatanpada orang tua atau anggota keluarga untuk mengekspresikan perasaan
- Berikan dorongan pada orang tua untuk membantu perawatan anak
4.   Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan keperawatan anak dengan hydrosefhalus didasarkan pada rencana yang telah ditentukan dengan prinsip :
a. Mempertahankan perfusi jaringan serebral tetap adequat
b. Mencegah terjadinya injuri dan infeksi
c. Meminimalkan terjadinya persepsi sensori
d.      Mengatasi perubahan proses keluarga dan antisipasi berduka

5.   Evaluasi
Setelah tindakan keperawatan dilaksanakan evaluasi proses dan hasil mengacu pada kriteria evaluasi yang telah ditentukan pada masing-masing diagnosa keperawatan  sehingga :
- masalah teratasi atau tujuan tercapai
- masalah teratasi atau tercapai sebagian
- masalah tidak teratasi / tujuan tidak tercapai

DAFTAR PUSTAKA

Donna, L. Wong, ( 1990 ), Clinical Manual of Pedriatric Nursing, The CV Mosby Company, Toronto

Greenbeng, C S ( 1998 ), Nursing Care Planning Guides for Children, Williams & Williams Sydney

Nelson, ( 1992 ) , Ilmu Kesehatan Anak, EGC, Jakarta

Price, Sylvia, ( 1995 ), Patofisiologi, EGC, Jakarta

Suriadi & Rita Y ( 2001 ), Asuhan Keperawatan Anak Edisi I, CV Agung Seto, Jakarta

Wong, Whaley, Nursing Care, Of Children and Family, St. Louis, Mosby year book

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar